Monica Shares | Proses Menjadi Orang Kudus
1606
page-template-default,page,page-id-1606,ajax_updown,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-11.2,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Berdasarkan ketentuan yang disusun oleh hukum apostolik Divinus Perfectionis Magister (Apostolic Constitution on the Revised Procedure in Causes of Saints) dan Normae Servandae (Norms to be Observed by Bishops When Making Inquiries in Causes of Saints), proses beatifikasi dapat dimulai oleh pemohon setelah 5 tahun sejak meninggalnya seorang atau sekelompok Katolik yang dikenal menjaga kekudusan hidup. Pemohon ini dapat berupa perorangan atau kelompok (paroki, kongregasi religius, keuskupan atau koinonia awam) yang diakui oleh otoritas gereja, yang akan membiayai dan menyebarkan permohonan ini.

Pemohon harus meminta postulator (pengacara yang akan mewakili aktor ketika maju memohon ke Congregation of the Causes of Saints – CCS, lembaga yuridiksi Vatikan yang mengurus proses Beatifikasi/Kanonisasi) yang dikenal oleh Uskup setempat. Postulator memohon kepada Uskup untuk memulai penyelidikan resmi terhadap hidup dari Calon Orang Kudus atau yang biasa disebut Hamba Tuhan (Servant of God).

Divinus Perfectionis Magister berkonsultasi dengan Uskup yang kompeten dan Uskup setempat untuk memulai penyelidikan. Pengumuman resmi harus diumumkan dan mengundang umat untuk melaporkan apabila memiliki informasi mengenai Calon Orang Kudus ini. Untuk memulai penyelidikan, Uskup harus menunjuk 2 ahli teologi untuk menyelidiki tulisan yang dipublikasi oleh Calon Orang Kudus. Pertanyaan-pertanyaan pun disiapkan untuk ditanyakan kepada saksi yang membantu mengumpulkan informasi ini. Kemudian Uskup bersangkutan harus mendapatkan Nihil Obstate dari CCS yang menyatakan bahwa penyelidikan dapat dimulai dan tidak ada catatan yang membuat penyelidikan ini dihentikan.

Setelah mendapatkan Nihil Obstate, Uskup dan delegasinya mulai mewawancarai saksi-saksi dan narasumber yang mengetahui kehidupan Calon Orang Kudus ini. Setelah itu, Uskup harus memastikan bahwa tidak ada unsur pemujaan publik kepada Calon Orang Kudus ini di wilayah pemakaman atau kematiannya. Setelah itu, 2 lembar kopi dari semua kehidupan Calon Orang Kudus atau yang disebut transumptum, dikirim ke CCS.

CCS memvalidasi laporan tersebut dan menunjuk seseorang yang mengawasi pembuatan biografi dan kumpulan kesaksian mengenai Calon Orang Kudus ini. Semua dokumen diperiksa oleh ahli sejarah, ahli teologi dan Uskup yang bekerja untuk CCS dan menentukan apabila dapat dilanjutkan atau tidak. Apabila berlanjut, CCS akan memberi gelar bagi Calon, yaitu ‘martir’ (Martyrdom) atau ‘heroik’ (Heroic Virtues). Sesudah melewati tahap ini, Calon Orang Kudus dapat disebut Venerable (yang dapat dihormati). Dan kemudian diumumkan ketika Paus mengadakan audiensi publik.

Apabila gelar yang diberikan adalah Martir, maka langkah selanjutnya adalah menentukan jadwal proses Beatifikasi, menjadi Beata atau Beato (Blessed). Namun apabila, gelar yang diberikan adalah non-Martir, maka 1 mukjizat diperlukan sebelum dapat dibeatifikasi. Untuk dapat dikanonisasi, diperlukan 1 lagi mukjizat yang terjadi setelah proses Beatifikasi. Sudah menjadi prosedur bahwa penyelidikan terhadap mukjizat-mukjizat tersebut dilakukan berkali-kali. Setelah melewati tahap ini, selanjutnya tinggal menentukan tanggal Kanonisasi dari Beata/Beato ini untuk menjadi Santo atau Santa (Saints).